WELCOME

For everyone who love classical stories
from many centuries until millenium
with some great story-teller around the world
these is just some compilation of epic-stories
that I've read and loved so many times
... an everlasting stories and memories ...

Translate

Showing posts with label Cina. Show all posts
Showing posts with label Cina. Show all posts

Saturday, November 24, 2012

Books "EAST WIND WEST WIND"



Books “ANGIN TIMUR ANGIN BARAT”
Judul Asli : EAST WIND WEST WIND
Copyright © 1930 by Pearl S. Buck
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Lanny Murtihardjana
Cover by Satya Utama Jadi
Cetakan I : Februari 2009 ; 240 hlm 
[ Review in Indonesia ]

Sebagai penggemar karya Pearl S. Buck – penulis asal Amerika yang memiliki ketertarikan kuat akan akar budaya Asia, buku ini menjadi salah satu target bacaanku, terutama dalam program Reading Challenge Historical Fiction. Namun setelah membaca kisahnya, kali ini penulis lebih berpegang pada adat-istiadat serta budaya kuno bangsa Cina yang bertemu dengan budaya Barat, sedikit mirip kisah kehidupan keluarga Wang (The Good Earth ; Sons ; A House Divided), namun lebih diutamakan kepada lingkup yang lebih kecil tanpa menyinggung soal sejarah serta perubahan politik. Meski demikian, buku yang tidak terlalu tebal ini, mampu memberikan gambaran serta sorotan tajam penulis akan kekangan adat budaya lama Cina di era yang mendekati dunia modern Barat.

[ source ]
Dengan menggunakan gaya penuturan ala buku harian, kisah ini merupakan curahan hati serta pikiran gadis bernama Kwei Lan. Sebagaimana adat Cina, meski ia terlahir dari Istri Pertama sebuah keluarga terpandang, kehidupannya berjalan nyaris tanpa perhatian atau kasih sayang kedua orang tuanya. Sang ibu mencurahkan seluruh perhatiannya kepada putranya – kakak Kwei Lan sekaligus penerus nama keluarga mereka. Sedangkan sang ayah, lebih memilih bersenang-senang dengan berbagai wanita yang dijadikan Selir-Selirnya. Kwei Lan gadis yang anggun, cantik, menarik serta telah mempelajari berbagai pengetahuan serta ketrampilan layaknya wanita terhormat. Maka ketika tiba waktunya, ia dipanggil untuk menikah dengan jodoh pilihan kedua orang tua masing-masing pihak, yang telah ditentukan semenjak ia lahir. 


Wednesday, October 31, 2012

Books "IMPERIAL WOMAN"



Books “MAHARANI”
Judul Asli : IMPERIAL WOMAN
Copyright © 1956 by Pearl S. Buck
Copyright © renewed 1984 by Janice C. Walsh, Richard S. Walsh, John S. Walsh, Henriette C. Walsh, Mrs. Chieko Singer, Edgar S. Walsh, Mrs. Jean C. Lippincott and Carol Buck.
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Lily Wibisono
Cetakan II : Agustus 1993 ; 360 hlm [ part 1 ] + 440 hlm [ part 2 ]

[ Period : Month of April 1852 M ; Month of 3 on Cina Year 208 on Manchu | Ch’ing Dynasty | Peking, Cina ]

[ source ]
Pada bulan keenam, hari kedua puluh, para perawan Manchu harus tampil di hadapan Ibu Suri sang Putra Langit, untuk dipilih menjadi selir-selir sang Kaisar. Kisah ini dimulai dari sosok Orchid – gadis rupawan berusia 17 tahun, salah satu dari 60 orang gadis yang terpanggil menghadap Ibu Suri. Orchid yang kemudian dipanggil sebagai Yehonala – belajar menarik perhatian pihak-pihak yang terkait, karena ia mendambakan perubahan besar dalam hidupnya, ia menginginkan dirinya sebagai Selir Terpilih Putra Langit. 

Meski hatinya tertuju pada saudara sepupunya, Jung Lu, bahkan dapat dikatakan mereka dijodohkan semenjak kecil, namun Yehonala tidak langsung menerima lamaran pujaan hatinya, justru menantikan kehidupan baru nan megah di dalam istana. Ia adalah gadis yang sangat cerdas dan memiliki kemauan keras, namun sebagaimana semua gadis belia, ia sangat polos akan kejamnya dunia di balik tembok raksasa Kerajaan. 

[ source ]
Dengan kecerdikan dan ketekunannya, Yehonala terpilih menjadi selir Pilihan, berusaha mengambil hati Ibu Suri, sembari menanti kesempatan untuk dipanggil oleh sang Putra Langit, terutama setelah ia menunaikan kewajiban pada Permaisuri baru, Sakota – adik kandung Permaisuri terdahulu yang telah tiada, sekaligus saudara sepupu Yehonala. Dibantu oleh salah satu kasim bernama Li Lien-ying, yang memiliki ambisi besar menaikkan statusnya, Yehonala mampu menembus persaingan ketat dan segala intrik dalam istana, memperoleh perhatian penuh dari Kaisar Hsien Feng, menjadi selir kesayangan no. 1, yang dipanggil sebagai Kesayangan Kaisar. 

Bintang keberuntungan menyertai dirinya, ketika ia hamil hampir setelah sang Permaisuri dinyatakan mengandung. Kehamilan dirinya dirahasiakan, hingga ia memperoleh kepastian, apakah sang Permaisuri Sakota akan melahirkan seorang putra – calon penerus Kerajaan, atau seorang putri. Ketika saat yang dinantikan tiba, Permaisuri akhirnya melahirkan, seorang bayi putri yang sangat lemah dan tidak diharapkan oleh Kerajaan, maka Yehonala tampil sebagai penyelamat, pembawa harapan akan masa depan yang lebih baik. 

[ source ]
Namun timbul tragedi atas kejadian itu, Ibu Suri yang terlalu gembira, meninggal dunia, putus nafasnya di hadapan putranya saat membawa kabar gembira tersebut. Maka tiada pesta pora, alih-alih suasana bergabung selama beberapa bulan. Maka Yehonala menyibukkan diri dengan belajar berbagai ilmu, mulai kesenian, pengetahuan umum, sastra hingga dunia politik, karena ia menyadari bahwa calon bayinya akan menjadi pemimpin kerajaan. 

Di dorong oleh rasa haus akan pengetahuan, Yehonala tidak puas dengan guru pembimbingnya yang hanya mampu mengajarkan dunia sastra. Maka dipanggillah Pangeran Kung – putra keenam dari Kaisar sebelumnya, saudara seayah dengan Kaisar Hsien Feng, yang jauh lebih pandai, cerdas dan memiliki pembawaan tenang serta berwibawa dibandingkan sang Kaisar, dan ia menjadi mentor selir muda yang ambisius ini. 

[ source ]
Kelahiran bayi yang dikandung Yehonala, sesuai firasatnya, terlahir putra – calon pewaris Kerajaan. Namun perjuangan Yehonala baru mencapai permulaan. Karena sifat serta kemauannya yang keras, tak mau dipengaruhi oleh pihak-pihak lain, membuat dirinya memiliki musuh-musuh dalam kerajaan. Bersekutu dengan kasim pilihannya Li Lien-ying serta Kasim Kepala An Teh-hai, Yehonala mempelajari strategi siapa kawan atau sekutu, dan siapa lawannya. Hingga ia memperoleh berkat dari sang Kaisar, gelar serta status Tzu Hsi – Ratu Istana Barat, Ibu yang Beruntung dari Putra Mahkota, kekuasaannya lebih besar daripada sang Permaisuri Sakota atau Tzu An – Ratu Istana Timur. Ratu Tzu Hsi siap melakukan apa pun demi menjaga dan menyiapkan kerajaan bagi putranya. 

Kisah ini sudah pernah kubaca beberapa tahun yang lalu, namun saat membaca ulang utnuk menulis reviewnya, ternyata tidak mengurangi kenikmatan membaca kisah yang seru, menarik sekaligus menyentuh. Penulis yang sudah dikenal sangat mencintai kehidupan dan budaya masyarakat Cina, meski dirinya dapat dikatakan termasuk ‘bangsa-asing’ mampu menyajikan sebuah kisah tentang perjuangan seorang wanita yang dianggap tak memiliki suara dalam kehidupan masyarakt Cina, terutama pada periode jaman Kerajaan. Sosok Yehonala yang berubah wujud menjadi Tzu Hsi – kaisar wanita yang lebih tegar, cerdas, berani sekaligus ambisius dibanding Kaisar Terpilih, dikagumi karena kemampuan berpikir dan mengambil keputusan bak seorang pria, namun tetap terjebak dengan aturan serta tradisi yang tidak memperdulikan ‘suara seorang wanita’. 

[ source ]
Dengan jeli penulis menuturkan curahan hati serta pikiran Yehonala, mulai dari Impian akan masa depan gemilang, alih-alih mendapati sosok Putra Langit yang dipuja-puja, tak lebih dari seorang pria muda yang lemah secara fisik (sang Kaisar mengalami impotensi dan harus didorong oleh ramuan obat kuat) serta mental akibat penyalah-gunaan obat-obatan, candu serta permainan seks yang dimulai semenjak masih remaja. Kebobrokan kehidupan dalam istana, permainan tidak sehat antara para selir, kasim, hingga pejabat terkait, kehidupan glamour dengan pesta pora tiada henti, penghamburan harta kekayaan hasil pengumpulan pajak rakyat demi memperindah dan memperluas istana, satu demi satu dikeluarkan melalui penuturan perjalanan Yehonala. 

Tidak kalah menariknya, intrik serta konspirasi demi alasan masa depan bangsa, namun pada akhirnya kembali pada ambisi pribadi masing-masing, satu demi satu para tokoh dalam kisah ini, terjalin dalam jaring laba-laba yang semakin meluas dan membelit satu sama lain. Yehonala, gadis dengan Impian besar, kecewa dengan pria yang dijunjung tinggi, sakit hati karena ia telah ‘menolak’ lamaran pujaan hatinya, hubungan gelap yang terjadi sekali namun menghasilkan Putra Mahkota yang sangat kuat, cerdas dan membanggakan, semua yang megetahui rahasia ini menutup mata demi satu hal, mengeruk keuntungan pribadi masing-masing, menjamin masa depan yang mereka maui. 

[ source ]
Apa jadinya jika kepentingan pribadi saling berbenturan ? Antar saudara, antar keluarga, saling curiga, saling membenci dan berusaha mencari jalan menjatuhkan bahkan menyingkirkan satu sama lain. Kebahagiaan yang terjadi tampak semu, hanya tampilan di luar, karena di dalam hati masing-masing hanya ada keserakahan, kekhawatiran, ketakutan tiada henti dan kesepian.  Di sini terlihat watak asli manusia bila ia dipojokkan, yang terbaik akan muncul, namun yang terburuk dan paling kelam juga acapkali keluar tanpa bisa dicegah. Anak menyingkirkan orang tua, orang tua melawan dan kehilangan anaknya. Harga nyawa manusia dihargai sangat murah, semuanya dengan alasan demi kemuliaan dan kejayaan. 

Kisah ini semakin menarik karena penulis memasukan konflik dari luar, selain kericuhan dari dalam istana. Dengan masuknya pengaruh serta budaya asing, mulai dari pergerakan pemberontak yang mengaku sebagai wakil Kristus, pasukan-pasukan dari Inggris, Perancis, hingga invasi Jepang serta Rusia, pengaruh yang diberikan oleh para misionaris asing serta biarawan dan biarawati yang mencari pengikut, kemajuan tehnologi modern yang menarik perhatian kaum muda namun dikecam dan dianggap sebagai hal terlarang oleh kalangan tua dan konservatif. 

[ source ]
Jika membaca kisah kehidupan keluarga Wang lewat Trilogi ‘The Good Earth- Sons- A House Divided’ maka pembaca akan disajikan pada kehidupan rakyat yang melalui perubahan iklim politik dan budaya tradisional menuju era modernisasi, maka lewat ‘Imperial Woman’ kita melihat bahwa kehidupan penghuni Kerajaan memiliki kesamaan dengan rakyat Cina, terlepas dari darah bangsawan serta ke-aristokrat-an yang selalu diagung-agungkan, mereka semua harus menyerah pada invasi bangsa asing, menerima kemajuan jaman, secara perlahan meninggalkan peninggalan kehidupan para leluhur. Yang cukup menarik dalam kisah ini, sosok Tzu Hsi yang semula mencemooh para pemimpin bangsa asing, justru menaruh hormat serta kekaguman tersendiri pada sosok Ratu Victoria – penguasa Inggris pada waktu itu. 

Tentang Penulis :
[ source ]
Pearl Sydenstricker Buck ( 26 Juni 1892 – 6 Maret 1973 ), dikenal pula dengan nama Cina Sai Zhenzhu, adalah seorang penulis asal Amerika yang menghabiskan separuh hidupnya di Cina hingga tahun 1934. Lahir di Hillsboro, West Virginia, dan dibawa ke Cina pada usia 3 bulan mengikuti tugas yang diemban oleh ayahnya sebagai seorang misionaris, karena itu Pearl dibesarkan dalam lingkungan bilingual, baik Cina maupun Inggris. Keluarga mereka mengalami masa-masa berat saat Pemberontakan Kaum Boxer, menimbulkan perpecahan antara bangsa Cina dan bangsa Asing (terutama dari Barat).

[ source ]
Pada tahun 1911, beliau meninggalkan Cina untuk menuntut ilmu di Amerika, dan baru kembali ke Cina pada tahun 1914 dan menikah dengan John Lossing Buck pada tanggal 13 Mei 1917, menetap di Suzhou, di Provinsi Anhui (lokasi yang beliau gunakan pada novelnya The Good Earth). Kemudian mereka pindah di kediaman baru di Nanking, Cina dan keduanya juga mengajar di Universitas Nanking. Kehidupan mereka semakin berat dengan propaganda pemerintahan baru Chiang Kai-shek, dan pada Maret 1927 Tragedi Nanking  yang mengambisi nyawa ribuan orang, membuat mereka menjadi salah satu dari sekian banyak bangsa asing yang bersembunyi dari kejaran tentara Chiang Kai-shek. Pada tahun 1934, mereka meninggalkan Cina untuk menetap di Amerika, dan tak pernah kembali ke Cina (pada tahun 1972, beliau berencana mengunjungi Cina, namun terkena larangan Presiden Nixon yang baru membuka hubungan diplomatik dengan pemerintah Cina). Pada tanggal 6 Maret 1973, beliau meninggal di Danby, Vermont akibat kanker paru-paru.

[ source ]
Beliau merupakan sosok yang sangat aktif dalam pergerakan hak-hak kaum wanita, pelestarian budaya Asia, masalah dan topik seputar birokrasi di bagian imigrasi, adopsi, pekerjaan misionaris dan kampanye anti-perang. Pandangan politik serta pengalaman hidupnya, banyak tercurah dalam karya-karyanya abik berupa novel, kumpulan cerita pendek, fiksi, cerita anak, serta biografi keluarganya. Di tahun 1949, beliau tergerak untuk membangun Welcome House, Inc – agen adopsi Internasional pertama yang menangani kasus-kasus anak-anak ‘blasteran/campuran’ yang banyak ditolak di kedua belah pihak. Selama 5 dekade perjuangan mereka, agensi ini telah berhasil menempatkan hampir 5.000 anak-anak terlantar ke keluarga penuh kasih yang bersedia mengadopsi mereka. 

[ source ]
Kegiatan beliau sebagai seorang humanitarian tak berhenti sampai di sini. Di tahun 1964, beliau mendirikan Pearl S. Buck International yang memiliki tujuan mengangkat harkat hidup anak-anak terlantar dan miskin di Asia, terutama mereka yang tidak memenuhi persyaratan untuk diadopsi. Pergerakannya kian meluas hingga membentuk panti-panti asuhan di Korea Selatan, Thailand dan Vietnam dengan nama Opportunity House. Sebagaimana ia katakan, “Tujuan utama misi ini adalah menyebarkan sekaligus menghapuskan ketidak-adilan serta prasangka terhadap anak-anak, hanya karena mereka terlahir berbeda, bukan berarti  mereka tak boleh menikmati pendidikan, menjalani kehidupan sosial serta status layaknya anak-anak normal lainnya.”

[ source ]
Keberanian dirinya sebagai aktivis politik yang berhubungan dengan harkat manusia, tampak pada era dimana pembicaraan atau diskusi tentang topik ini bisa membuat seseorang ditangkap dan ditahan. Beliau justru menantang masyarakat Amerika dengan mengangkat isu rasialis, diskriminasi sex, dan ribuan bayi-bayi terlahir dan terlantar akibat perlakuan tentara Amerika terhadap kaum wanita di Asia selama peperangan. Rumah tempat kelahiran beliau di Hillsboro kini menjadi sebuah museum sejarah dan pusat budaya yang dibuka untuk umum, siapa saja yang peduli dan bersedia membuka pikiran serta Impian masa depan yang lebih baik.  Pearl S. Buck adalah seorang istri, ibu, penulis, editor dan aktivis hak-hak kemanusiaan. Para pembaca bisa melihat buah pikirannya lewat The Good Earth yang masuk dalam daftar bestseller selama 1931-1932 di Amerika, sekaligus memenangkan penghargaan Pulitzer Prize di tahun 1932. Pada tahun 1938, beliau dianugerahi Nobel Prize in Literature atas tulisannya yang kaya akan penggambaran detail kehidupan orang-orang yang tersia-sia di Cina. 

Info selengkapnya tentang penulis beserta karya-karyanya, silahkan kunjungi situs-situs berikut :

Best Regards, 

Friday, September 28, 2012

Books "WHERE WE WERE ORPHANS"



Books “Masa-Masa Kita Yatim Piatu”
Judul Asli : WHEN WE WERE ORPHANS
Copyright © Kazuo Ishiguro 2000
Penerbit : Elex Media Komputindo
Alih Bahasa : Linda Boentaram
Cetakan I : September 2012 ; 416 hlm
Period : 1920 – 1958 | London, Inggris – Shanghai, Cina 

[ source ]
Christopher Banks lahir dan besar di Shanghai, Cina pada awal abad 20. Namun ia menjadi anak yatim piatu pada usia 9 tahun, setelah kedua orang tuanya ‘menghilang’ tanpa jejak. Pihak berwenang mengirim dirinya menyeberangi lautan untuk tinggal dan menetap bersama bibinya di Inggris. Christopher menjalani kehidupan barunya, peradaban serta budaya yang berbeda, dan ia berhasil beradaptasi meskipun tidak masuk dalam kelompok populer. 

Setelah lulus dari Cambridge University, ia menjalani kehidupan baru yang tenang dan santai di kediaman pribadinya, sebuah flat mungil di wilayah Kensington. Pertemuan tak disengaja dengan  James Osbourne – teman lama dari sekolah pada musim panas 1923, memicu serangkaian kejadian yang membawa dirinya berjumpa dengan wanita unik bernama Sarah Hemmings – gadis menarik yang menjadi bahan gunjingan karena perilakunya yang tidak sesuai dengan tradisi kalangan terhormat. 

[ source ]
Pertemuan kedua kalinya dengan gadis ini menimbulkan rasa malu dan amarah pada diri Christopher. Dan ketika tahun berlalu, saat ia berada di puncak karirnya sebagai detektif swasta yang kampiun, Sarah Hemmings justru muncul dan ‘memaksa’ agar ia mau memberikan bantuan untuk memasuki pesta gala kalangan atas, dimana Christopher sudah pasti diundang karena kesuksesannya memecahkan berbagai kasus di Inggris. Christopher tak terlalu memperhatikan perjumpaan tersebut, hingga tiba saat pesta gala diadakan, dan disanalah, di lobby gedung, Sarah menanti dirinya – kunci masuk ke dalam acara eksklusif. Dan Christopher berhasil membalas perlakuaan Sarah dahulu terhadap dirinya, dengan menolak gadis itu di depan umum. 

Insiden memalukan dan tak terlupakan itu semakin terngiang dan merubah hubungan di antara keduanya. Sarah yang penuh dengan tekad, tak pernah mau memperdulikan aturan serta tatanan pergaulan, mampu membawa dirinya memasuki dunia yang diinginkan. Dan Christopher yang tampak telah menjalani kehidupan kalangan atas yang diminati banyak orang, justru mendapati bahwa semua itu semu dan ia tak berminat lebih jauh untuk mengikuti arus pergaulan yang menjemukan. Apalagi diam-diam ia memiliki impian tersendiri, sesuatu yang memicu dirinya hingga memilih profesi sebagai seorang detektif. Christopher berniat mencari tahu keberadaan kedua orang tuanya yang lenyap di Shanghai berpuluh-puluh tahun silam. 

[ source ]
Christopher yang menutup rapat-rapat tentang masa lalunya di Shanghai, mendapati ia mampu bercerita kepada Sarah, yang tertarik dan menaruh minat pada cita-cita Christopher. Dan ketika keduanya terpisah karena alasan yang aneh, keduanya bertemu kembali di Shanghai, saat Christopher akhirnya beranjak mencari tahu sesuatu yang telah ‘mengendap’ di benak. Ia bahkan meninggalkan anak asuhnya Jennnifer ke dalam asrama sekolah, karena ia tak tahu akan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menemukan jejak kedua orang tuanya. Apalagi saat itu Shanghai bagian dari Cina, tengah dalam kondisi perang dengan pihak Jepang. 

Sementara itu Sarah Hemmings telah menikah dengan tokoh kelas atas Sir Cecil Medhusrt – sosok pencetus perdamaian, dan beliau datang langsung ke Shanghai dengan harapan mampu menyelesaikan pertikaian, namun ketrampilan di dunia politik Inggris ternyata tak mampu diterapkan di belahan dunia yang sibuk berperang. Alih-alih Sir Cecil terpuruk dalam perjudian dengan hutang yang semakin menumpuk. Sang istri yang jauh lebih muda dan menarik, yang dulu selalu menjadi kebanggannya, kini hanya sebagai pelampias kemarahan serta frustasi dirinya. 

[ source ]
Christopher yang melihat kondisi kedua pasangan ini, mau tak mau teringat akan situasi yang dialami kedua orang tuanya dulu. Kehidupan rumah tangga yang hangat, berubah karena sang ayah terikat pada perusahaan yang bekerja sama dengan para pedagang opium, sesuatu yang ditentang keras oleh istrinya dalam kampanye anti-opium. Mampukah Christopher memecahkan misteri yang telah terjadi bertahun-tahun silam ? Dan bagaimana ia meyikapi kehidupan pribadinya, terutama menyangkut seseorang yang menarik hatinya sekian lama ?


“...memang benar kau dibesarkan dengan bermacam-macam orang di sekelilingmu. Orang China, Prancis, Jerman, Amerika. Tidak heran kalau menjadi sedikit berdarah campuran. Tetapi itu bukan hal buruk. Kurasa tidak buruk jika anak-anak lelaki sepertimu tumbuh dengan sedikit pengarh di sana-sini. Kita semua mungkin bisa memperlakukan sesama jauh lebih baik. Mengurangi perang, misalnya. Mungkin suatu hari nanti, semua konflik ini akan berakhir, dan bukan karena para politisi hebat atau gereja atau organisasi seperti ini. Tetapi karena orang sudah berubah. Mereka akan menjadi seperti dirimu, Puffin. Lebih seperti campura. Tetapi kenapa tidak? Itu hal yang sehat.”
[ from ‘Where We Were Orphans’ by Kazuo Ishiguro | p. 102 -103 ]


[ source ]
Ini adalah buku pertama Kazuo Ishiguro yang kubaca, meskipun ‘The Remains of the Day’ dan ‘Never Let Me Go’ sudah cukup lama berada di tumpukan buku-buku. Rasa penasaran karena karakter yang berprofesi sebagai deteltif inilah yang membuatku memilih sebagai bacaan pertama karya penulis yang hampir seluruh novelnya masuk dalam daftar “100 Books To Read Before You Die” --- sungguh menggugah rasa penasaran, apa keistimewaan karya-karya beliau.

Alih-alih cerita detektif, kisah ini tentang perjalanan hidup Christopher Banks semenjak kanak-kanak hingga dewasa. Dengan menggunakan sudut pandang pertama, karakter ini mampu menyajikan gambaran situasi yang sedang terjadi. Namun dibutuhkan kesabaran untuk memperoleh gambaran besar karena penulis memilih cara ‘back-in-forward’ melalui berkas-berkas ingatan serta kenangan tokoh utama, sembari ia menjalani kehidupannya. Dengan mengandalkan ingatan masa kecil yang kabur, dan mengambil kesimpulan sesuai nalarnya sebagai orang dewasa, sedikit demi sedikit, mulai terpecahkan berbagai pertanyaan yang mengiringi diriku semenjak halaman-halaman depan. 

[ source ]
Mengambil tema sosial budaya yang berbeda, pertemuan antara Barat dan Timur, tercermin dalam kehidupan Christopher di Shanghai, terutama persahabatannya dengan Akira – anak keluarga Jepang yang juga harus beradaptasi di budaya multi-kultural ini. Penulis mampu menyelipkan konflik-konflik budaya serta tradisi lama, melawan pengaruh modern yang masuk. Bahkan memberikan ketegangan lewat topik perdagangan opium yang mana dibawa oleh bangsa Barat untuk menguasai dan menaklukan bangsa Timur, namun akhirnya kendali tersebut jatuh di tangan bangsa Timur yang mampu mendirikan kerajaan bisnis dunia. 

Cukup menarik kisah dengan ide serta materi yang kompleks, termasuk pandangan politik yang jelas-jelas mencemooh kaum birokrat Barat. Namun ada beberapa hal yang sedikit mengganjal. Jika memang sosok Christopher Banks adalah penyelidik yang brilian, mengapa ia tak mampu menepiskan anjuran sesamanya bahwa misi penyelamatan setelah berpuluh-puluh tahun di tempat kejadian yang menjadi medan perang adalah sesuatu yang absurb bahkan tidak sesuai dengan logika. Perlakuannya setelah berjumpa kembali dengan Akira sebagai musuh, juga menunjukkan seperti orang yang terobsesi dengan Impian yang dibangunnya bertahun-tahun.

[ source ]
I don’t know whether this character means to be ‘naive’ or ‘crazy’ --- well, maybe its up to the reader to decide. But when the final of the searching meets the answers, only silent and peace – something that maybe the answers to many people for their entire life. I close this book with the sweet and calm reaction. So many thing happen on life, sometimes the answers is not what you need to know, sometimes you just enjoy it every moment.  

Tentang Penulis :
[ source ]
Kazuo Ishiguro, lahir di Nagasaki, Jepang pada tanggal 8 November 1954, namun keluarga bermigrasi ke Inggris di tahun 1960. Ia memperoleh gelar BA dari University of Kent di tahun 1978 dan gelar Master dari University of East Anglia untuk creative writing course di tahun 1980. Ia secara resmi menjadi warga negara Inggris pada tahun 1982. 

[ source ]
Beliau merupakan salah satu penulis fiksi kontemporer yang banyak dibicarakan dan diakui dalam dunia penulisan di Inggris, dan karya-karyanya memperoleh banyak sorotan serta penghargaan International. Mulai dari 4 nominasi untuk Man Booker Prize, dan memenangkan salah satunya lewat “The Remains of the Day” pada tahun 1989, hingga kisah ini diangkat ke layar lebar dengan judul sama (1993), dibintangi oleh Sir Anthony Hopkins dan Emma Thompson.  Kemudian anugerah OBE pada tahun 1995, hingga Chevalier de l’Ordre des Arts et des Lettres pada tahun 1998. Pada tahun 2008, The Times menempatkan beliau pada posisi ke-32 dari daftar  50 penulis Inggris ternama semenjak 1945.  

Novel pertamanya ‘A Pale View of Hills’ memperoleh penghargaan Winifred Hotlby Memorial Prize di tahun 1982. Menyusul novel keduanya ‘ An Artist of the Floating World’ yang memperoleh Whitbread Prize di tahun 1986. Kesuksesan novel ke-3 ‘The Remains of the Day’ (1989) disusul dengan rilisnya ‘The Unconsoled’ (1995) dan ‘When We Were Orphans’ (2000). Novel terbarunya ‘Never Let Me Go’ (2005) masuk dalam daftar 100 Novels Inggris terbaik versi Times Magazine, dan diangkat pula ke layar lebar dan rilis September 2010, dibintangi oleh Keira Knightley, Andrew Garfield dan Carey Mulligan. 

Best Regards,