WELCOME

For everyone who love classical stories
from many centuries until millenium
with some great story-teller around the world
these is just some compilation of epic-stories
that I've read and loved so many times
... an everlasting stories and memories ...

Translate

Showing posts with label Japan. Show all posts
Showing posts with label Japan. Show all posts

Monday, March 25, 2013

Books "AN ARTIST OF THE FLOATING WORLD"



Judul Asli : AN ARTIST OF THE FLOATING WORLD
Copyright © by Kazuo Ishiguro, 1986
Copyright © 2010 Penerbit Elex Media Komputindo
Alih Bahasa : Rahma Wulandari
ISBN : 978-602-02-0497-0 | 2013 | 226 hlm
[ Review in Indonesia & English ]

“Sebuah kebahagiaan mendalam yang muncul dari keyakinan bahwa perjuangan seseorang telah diakui ; bahwa kerja kerasnya telah membuahkan hasil, keraguannya terhapuskan, semuanya menjadi sepadan dan bernilai – inilah kisah tentang seseorang yang telah mencapai sesuatu  yang  bernilai dan memperoleh pengakuan.” [ p.  223 ]

Kehidupan seorang manusia semenjak ia terlahir di dunia hingga tiba saatnya ia kembali ke asalnya – merupakan perjalanan unik yang memiliki jejak serta warna yang berbeda, antara satu dengan yang lain. Terlepas dari perbedaan ras, kondisi lingkungan, status ekonomi dan sosial, masing-masing memiliki kesempatan yang sama, yaitu menentukan sendiri pilihan akan jalan mana yang akan ditempuh dalam menjalani hari demi hari. Namun yang sering terjadi, manusia tidak mau meluangkan waktu untuk bersyukur atas kebahagiaan, kesenangan, kenyamanan, kenikmatan dan kesuksesaan yang dialami. Bahkan acapkali senantiasa menuntut ‘hak’ diatas ‘kewajiban’ dan menyalahkan siapa saja atas kesalahan dan kegagalan yang dialami, alih-alih berusaha menerima tanggung jawab atas diri sendiri.

Thursday, January 31, 2013

Books "MEMOIRS OF A GEISHA"



Books “Memoar Seorang Geisha”
Judul Asli : MEMOIRS OF A GEISHA
Copyright © 1997 by Arthur Golden
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Listiana Srisanti
Cetakan XI : Desember 2007 ; 496 hlm
[ Review in Indonesia & English ]

[ Period : 1930 ] ~ [ Setting : Yoroido – Kyoto ; Japan ] ~ [ Facts : History about the living of geisha community in Gion District, Kyoto ]

Awal pembukaan kisah cukup menarik, dimulai dengan kata pengantar berjudul ‘Catatan Penerjemah’ yang anehnya berbeda dengan nama alih bahasa di edisi terjemahan ini, namun sambil melanjutkan halaman demi halaman, dan melalui hasil wawancara dengan sang penulis, ternyata memang kondisi ini disengaja, untuk mendekatkan pembaca dengan penuturan lewat sudut pandang orang pertama : sosok Sayuri – tokoh utama kisah ini, dengan perantaraan orang kedua, yaitu ‘sang penerjemah’, yang dituturkan bagaikan sebuah memoar. Ini adalah sebuah kisah fiksi yang memperoleh banyak masukan dari gambaran kehidupan nyata para geisha di era tahun 1930-an. Meski sebuah fiksi belaka, namun banyak kebenaran di dalamnya, fakta-fakta yang selama ini tersembunyi dalam suatu komunitas kehidupan yang penuh dengan kontroversi serta skandal. 

~ Ohgo Suzuka as Chiyo ~
Tokoh utama dalam kisah ini adalah gadis cilik bernama Chiyo – putri kedua pasangan nelayan miskin Minoru Sakamoto dari pernikahannya yang kedua. Ia memiliki kakak perempuan bernama Satsu yang berbeda usia 7 tahun. Jika Satsu sangat mirip dengan ayah mereka, maka Chiyo mirip sekali dengan ibunya, terutama sepasang mata besar berwarna kelabu transparan, sesuatu yang langsung menarik perhatian dimana sebagian besar warna mata di Jepang adalah gelap atau kecokelatan. Kehidupan Satsu dan Chiyo mengalami perubahan besar, ketika salah satu pengusaha besar di wilayah tersebut, Tuan Ichiro Tanaka bertemu dengan Chiyo secara tak sengaja. Chiyo yang sangat terkesan dengan keramahan serta penampilan Tuan Tanaka, memiliki harapan dan impian, bahwa ia serta keluarganya ‘diadopsi’ oleh Tuan Tanaka. Dan suatu hari, impian tersebut terjadi, Satsu serta Chiyo dipanggil untuk segera menghadap Tuan Tanaka di kota. Tanpa sempat berpamitan dengan sang ibu yang tergolek sakit, hanya mengucapkan sepatah-dua patah kata kepada sang ayah yang tampak semakin sedih dan layu pada hari-hari terakhir, kedua gadis itu segera menemui Tuan Tanaka, yang langsung membawa mereka ke stasiun kereta api, menyerahkan keduanya kepada sosok asing bernama Tuan Bekku yang tampak menyeramkan.

Friday, December 28, 2012

Books "GINKO"



Books “GINKO”
Judul Asli : BEYOND THE BLOSSOMING FIELDS
Published by  Alma Books, London, 2008
Copyright © Jun’ichi Watanabe, 1970
Translate from Japan by Deborah Iwabuchi & Anna Isozaki from original tittle ‘Hanauzumi’
Penerbit Serambi Ilmu Semesta
Alih Bahasa : Istiani Prajoko
Editor : Anton Kurnia & Dian Pranasari
Cetakan I : Oktober 2012 ; 576 hlm

[ Period : at the end of 19 Century ; Meiji era ] ~ [ Setting : Japan ] ~ [ History : Ginko Ogino – the first female doctor di Japan ]

Kisah perjuangan seorang wanita demi mencapai Impiannya, bukanlah suatu hal yang baru. Namun jika ia juga harus melawan arus deras dan kuat, berupa adat-istiadat, pola pikir masyarakat kuno serta prasangka, sangatlah berat hal itu untuk dilaksanakan. Terlebih jika hanya seorang diri, tanpa ada teman atau pun keluarga yang mau memahami Impian tersebut. Ginko Ogino adalah wanita muda yang menderita akibat penyakit kelamin yang ditularkan oleh sang suami. Yang membuat dirinya berbeda, ia memiliki harga diri yang tinggi sehingga tidak bersedia menerima begitu saja nasib buruk yang ditimpakan kepadanya.  Ia memilih bercerai, menimbulkan gunjingan buruk tentang dirinya (padahal ia adalah korban, bukan pelaku kejahatan) dan sembari mengisi waktu, ia menekuni ilmu-ilmu yang didapatkan dari berbagai bacaan, dan hal ini juga disoroti oleh masyarakat karena tidak pantas seorang wanita banyak menghabiskan waktu dengan membaca (wah, beruntung sekali diriku tidak hidup di jaman seperti ini).

~ Ginko Ogino ~ [ source ]
“...memandang perempuan hanya dari kemampuannya menghasilkan anak tanpa melihat nilai-nilai lainnya adalah penghinaan. Suaminya tidak hanya merusak kesehatannya, tetapi juga telah merampok harkatnya sebagai perempuan. Masyarakat tidak akan menganggapnya sebagai perempuan sejati. Yang dilakukan semua laki-laki hanya meminta maaf. Lantas bagaimana dengan perempuan ? Menerimanya sebagai takdir dan menyerah begitu saja ?” [ p. 34-35 ]

Pada awalnya Gin – panggilan akrab dari keluarganya, tidak memiliki bayangan khusus apa yang akan ia lakukan setelah bercerai. Keberadaan dirinya di kediaman orang tuanya tidak lain karena kebaikan sang ibu yang menaruh iba atas kondisinya. Sedangkan saudara-saudaranya, terutama yang tertua, tidak ambil pusing dengan kondisinya, bahkan turut menganggap Gin telah mencoreng nama keluarga Ogino. Hingga suatu hari, ketika ia dan sang ibu berobat ke rumah sakit khusus di Tokyo, sebuah pengalaman tak terlupakan terjadi pada diri Gin, yang akan merubah masa depannya. Gin menderita ‘gonorrhea’ penyakit kelamin yang belum ada penyembuhannya pada waktu itu. Berbekal saran serta surat pengantar dari dokter keluarganya, Dr. Mannen, Gin ditemani sang ibu, berobat pada dokter Sato yang dikabarkan mampu menyembuhkan penyakitnya. 

[ source ]
Dr. Sato adalah dokter yang mempelajari ilmu pengobatan ala Barat, namun pendekatan dan cara pemeriksaan yang ia lakukan pada sang pasien, justru membuat Gin trauma dan merasa dilecehkan. Rasa malu yang tak tertahankan setiap kali dilakukan pemeriksaan oleh para dokter itu yang mendorong Gin memiliki Impian baru : ia ingin menjadi seorang dokter wanita demi membantu wanita-wanita lain yang berada pada posisinya sebagai korban kaum pria. Sebuah cita-cita yang luhur, namun bisakah ide tersebut diterapkan saat tiada satu hal pun yang bisa mendukung terwujudnya hal itu ??  Melalui sahabat-sahabatnya, Dr. Mannen serta putrinya Ogie, ia memutuskan meneruskan pendidikan untuk menjadi seorang dokter. Ini berarti ia harus menentang keluarganya, dan pergi seorang diri ke kota demi cita-citanya. 

Jangan membayangkan bahwa Gin langsung mendaftar masuk sekolah kedokteran. Pertama-tama ia harus lulus pendidikan formal, yang berarti mencari guru yang bersedia membimbingnya (ingat pada jaman ini, tidak ada pendidikan lanjutan apalagi sekolah bagi kaum perempuan). Kemudian jika ia dinyatakan lulus, maka barulah ia diperbolehkan mendaftar di sekolah kedokteran. Kesulitan-kesulitan  awal dirasakan oleh Gin, jauh dari semua kenalannya, tiada support dana yang memadai, ditambah dengan sang guru yang berniat memperistri dirinya ... Namun Gin tak kenal lelah, berusaha sekuat tenaga mencari jalan keluar setiap permasalahan yang harus dihadapi. 

Dan ketika usaha memasuki sekolah kedokteran akhirnya diijinkan oleh pihak berwenang (meminta ijin masuk sulit luar biasa), pengalaman Gin sebagai satu-satunya perempuan di sekolah yang berisi kaum pria, diganggu, dihina, hingga dilecehkan (terutama jika ia hendak ke kamar kecil, yang tersedia hanyalah urinal bagi kaum pria), bahkan diancam diperkosa beramai-ramai oleh gerombolan yang tidak senang akan kehadirannya.   

[ source ]
Saat membaca bagaimana Gin berusaha mempelajari anatomi tubuh manusia, dirinya yang tak pernah tahu tentang hal ini, ditambah dengan ilustrasi yang digambarkan oleh seniman, cukup unik jika hati digambarkan seperti sebuah payung, dan rahim bagaikan alat pemetik dawai samisen (lumayan lucu membayangkannya), dan guna mengetahui posisi organ-organ tubuh manusia, ia harus mencoret-coret tubuhnya sendiri dengan tinta dan kuas, serta berhadapan dengan cermin. Bahkan demi mempelajari bagian-bagian tulang, ia dan beberapa temannya harus membongkar dan mencuri dari pemakaman. Jangan harap ada sesi bedah anatomi bagi para siswa sekolah kecil seperti yang dimasuki oleh Gin, karena hal tersebut hanya diperuntukan bagi para ahli bedah ternama atau universitas terkenal. Saat-saat inilah Gin mulai membandingkan perbedaan nyata antara perkembangan ilmu kedokteran Barat dengan cara tradisional yang serta tertutup.
 
Penulis mampu menyajikan dengan baik gambaran kehidupan sosok Ginko Ogino, lewat narasi dan sudut pandang Ginko, seakan-akan ia sendiri yang mengisahkan perjalanan serta pergulatan dalam hidupnya. Halangan demi halangan, tiada henti menghadang setiap langkahnya. Kesulitan mencari guru, kesulitan memasuki sekolah, kesulitan untuk belajar sembari mancari nafkah bagi kebutuhan hidupnya, kesulitan memperoleh ijin praktek dari pemerintah– meski ia termasuk salah satu lulusan dengan nilai terbaik. Saat ia sudah bisa membuka praktek pribadi, kesulitan meyakinkan pasien untuk berobat pada seorang dokter perempuan, dan kesulitan menemukan pasien yang bisa membayar biaya-biaya pengobatan. Semua cobaan diterima dan dijalani tanpa kenal lelah. Hingga Ginko berkenalan dengan agama Kristen. Dan jatuh cinta pada pemuda yang usianya jauh lebih muda 13 tahun dari dirinya. Sebuah kisah kehidupan seorang perempuan yang penuh dengan lika-liku, dan kini namanya tercatat dalam sejarah dunia karena telah membuka jalan bagi kaum perempuan untuk bebas memilih jalan hidupnya sendiri.



My Random Though :
It’s a touching stories about woman named Ginko Ogino, who like others women live in Meiji’s era, struggling between her life, dreams and the right as human-being. Ginko’s life start when her engagement with wealthy and powerful family. Married with the heirs and give a honorable named for her family, but her dreams was ‘crushed’ when her husband give her ‘Gonorrhea’ – a dissease that infected most of the woman in those era, without proper medication or even knowledge how to cure it. Being sick for almost two years, deglected by her husband family’s and treated as a common servant, Ginko decided to runaway, walking with fever to her parents. Her coming home without proper announcement, makes the entire village’s fill with negative-issue. If not because her mother’s care, she will immediately sent-back to his husband.

Ginko’s mind changes through her suffer in marriage that not like her dreams as a young bride. And she persisted not coming-back to her husband, despite all ‘the-talking’ among villager. With her mother helps, she divorce and offiacially separeted with her husband. Ginko had to live the hummilation and negative-talks about her being single, ‘cause she cannot have a child for the heir her husband’s family. She really angry and heart-broken, when the guilty one : her husband, who give her dissease that cannot be cure and makes her infertile too, can escape from all the negative accusasion. But Ginko never want to be treated as a victim. She choose to reach another life, but that was a hard thing to do because of her condition.

Her life becoming very different when she had to face an ugly-discourage-exploitation and sexual hummiliation, when being treated di Tokyo’s Hospital. That traumatic episode, makes her thinking, what if there is a female doctor who examine and treating all the female victim / pasient not only with the cure but also gentle approach and honor their dignity as a woman. Her dreams become more and more stronger while she facing the suffer on the treatment in those hospital. And when she finally makes her mind, she had through all the hardest way to pursue her dreams. Rejected by her family because her action consider as traitor and dishonor family’s named, rejected by the society who thinks woman never had to be smart, reads a lot or even go to school and gets high education. This is a true story about Ginko Ogino – the first female doctor in Japan, who had suffer, through hummiliation and sexual harrasment almost all her life, to open a door for women’s rights in Japan, to get recognise as a human-being and an equal position in life.     

Tentang Penulis :
[ source ]
Junichi Watanabe dilahirkan di Hokkaido, Jepang pada tahun 1933. Dia mulai tertarik menulis semasa di bangku sekolah menengah. Ketika menjadi mahasiswa kedokteran di Universitas Sapporo, dia bereksperimen dengan tulis-menulis dan mulai menerbitkan tulisannya di sejumlah majalh sastra. Setelah lulus sebagai seorang dokter, dia sempat membuka praktek sebagai ahli bedah ortopedi, tapi kemudian memilih untuk mengundurkan diri, hijrah ke Tokyo dan menekuni dunia menulis sepenuhnya.   

Maka mulai tahun 1969, dia dikenal sebagai penulis yang produktif dan karya-karyanya mayoritas berupa novel biografis  dan berlatar belakang dunia kedokteran, seperti ‘Hanauzumi’ (judul asli buku ini) dan 'Shitsuraken' (A Lost Paradise) yang menjadi salah satu buku laris di Jepang dan negara Asia lainnya. Ia telah menghasilkan lebih dari 50 novel, beberapa di antaranya telah diadaptasi ke layar lebar. Berbagai penghargaan dalam bidang sastra dan penulisan juga diterimanya, antara lain Naoki Prize (1970) untuk novel ‘Hikari to kage’ (Light and Shadow) serta Eiji Yoshikawa Prize (1979) untuk novel ‘Toki rakujitsu’ (The Setting Sun in the Distance)

[ more about the author and his related works, check on here : Jun'ichi Watanabe | IMDb | Ogino Ginko  ]

Best Regards,

Wednesday, April 18, 2012

Books "A NOTE FROM ICHIYO"


Judul Asli : A NOTE FROM ICHIYO
Penulis : Rei Kimura
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Moch. Murdwinanto  
Cover by Mulyono
Cetakan ke-01 : Maret 2012 ; 280 hlm  

Kesan :
Saat melihat buku ini yang pertama menarik perhatian adalah covernya, dengan illustrasi desain bunga sakura dilatar belakangi foto mata uang kertas Jepang dengan sosok wanita di dalamnya … lebih mendekat, terpapar tulisan : “Catatan Ichiyo – Perempuan Miskin Di Lembar Uang Jepang”  - wah, semakin penasaran diriku dan segera membalik back-cover guna mengetahui sinopsisnya, ternyata kisahnya semakin menggugah keingin-tahuanku akan kebenaran isi bukunya …

Kisah dibuka pada saat sosok Ichiyo Higuchi bertahan dengan kondisi penyakitnya yang semakin parah, berlanjut dengan kondisi ‘flash-back’ kembali ke masa lalu, kisah tentang kedua orang tuanya, perjalanan hidup mereka hingga lahirlah anak-anak termasuk si cilik Natsuko yang di kemudian hari berganti nama menjadi Ichiyo.

Yang cukup menyenangkan gaya penulisan yang digunakan menggunakan bahasa simple, bahasa sehari-hari dengan pengungkapan yang lugas, tanpa disertai gaya kuno yang terkadang terlalu panjang dan bertele-tele. Dengan menggunakan dialog serta berbagai percakapan, membuat pembaca seakan ‘menonton’ sebuah kisah drama di televisi, penggambaran suasana hati serta perasaan para karakter, semakin mempererat pemahaman kita akan kondisi serta situasi yang sedang terjadi.

Maka tidak mengherankan buku setebal 280 halaman ini mampu kuselesaikan dalam waktu yang sangat singkat namun tetap meninggalkan kesan yang mendalam. Sungguh tidak mudah menghidupkan sosok kehidupan nyata dalam perjuangannya menghadapi tragedi hidup hingga berhak menyandang penghargaan yang mengisi sejarah bangsa Jepang. Sosok yang dalam kehidupan nyata hidup dalam kemiskinan yang merenggut nyawanya, hanya berbekal semangat tinggi yang  mampu membuatnya bertahan hingga menghasilkan karya-karya yang terus dikenang hingga kini. Dan masyarakat Jepang akan selalu mengingat perjuangannya lewat selembar uang kertas 5.000 Yen Jepang di mana wajah Ichiyo diabadikan. 

Aku salut terhadap penulis, yang mampu merangkum perjalanan hidup sosok penting dalam sejarah  sebatas  300 halaman  - tanpa menimbulkan rasa bosan dan jenuh dalam pembacaan, atau justru sebaliknya, merasa tidak puas dengan hasil penulisan ( yang sering ku alami dengan novel-novel tipis, ide serta pengembangan karakter sudah bagus, tapi karena sangat singkat, dipaksakan selesai dengan ketidak-puasan pembaca )

Nah, sudahkah Anda siap menikmati kisah perjalanan hidup wanita mengagumkan, walau bukan ‘super-woman’ tapi sudah berani menentang adat istiadat kuno yang sangat meremehkan dan merendahkan kaum wanita. Luangkan waktu Anda untuk membaca kisah ini. Bukan novel yang masuk bestseller hingga cetak-ulang berkali-kali, bukan jenis novel romantis yang mendayu-dayu, bukan pula novel tentang kekejaman zaman hingga manusia menderita … ini hanyalah sekedar kisah wanita miskin yang hidup di era kuno, terbelengku oleh berbagai aturan yang berlaku di masyarakat, hanya keberanian serta kekuatan Impian membuat dirinya ‘berbeda’ dengan yang lain.

Jika Anda pernah membaca kisah Merry Riana, maka bayangkan sosok wanita yang sama tetapi pada era yang jauh berbeda, namun dengan rintangan dan tantangan yang sama. Dunia nyata memang sedikit lebih kejam ( penuh diskriminasi ) dalam memperlakukan wanita, tidak peduli pada era atau zaman yang berbeda. Tapi satu pelajaran penting yang menjadi pegangan orang-orang yang “berhasil” dalam hidupnya : memegang teguh Impian dan tidak pernah menyerah pada kondisi apa pun.  

Meminjam ucapan Kuniko – adik tersayang Ichiyo, pada suatu siang 300 tahun silam : “ Kau akan menjadi terkenal, mungkin wajahmu akan muncul dalam uang kertas Jepang suatu hari nanti, Ichiyo, dan kita tak akan pernah miskin lagi ! ” Ichiyo tertawa, “ Teruslah bermimpi, ya Kuni-chan, paling tidak itulah yang dapat kita lakukan terus-menerus, karena mimpi itu gratis ! “


Sinopsis :
Pada sekitar tahun 1857 Jepang pada zaman Meiji, pasangan Noriyoshi Higuchi dan Furuya Ayame melarikan diri dari desa tempat tinggal mereka menuju ibukota Edo. Mereka berdua masih sangat muda, namun kondisi Furuya yang hamil sebelum mereka menikah, akan menjadi aib  bagi keluarganya, dan pernikahan merupakan pilihan yang tak pernah diterima oleh kedua belah pihak keluarga masing-masing. 

Noriyoshi Higuchi – pemuda tampan dan menarik, memiliki cita-cita tinggi untuk mengangkat derajat hidupnya pada posisi terhormat, namun kemiskinan menghalangi jalannya, hanya kepandaian serta kecerdasan otaknya yang menjadi bekal hidupnya. Furuya Ayame – gadis cantik, putri pengusaha kaya, hidup dalam kelimpahan serta kenyamanan,  jatuh hati pada pemuda tampan namun miskin sehingga dianggap tidak layak oleh keluarganya. 

Perjalanan hidup dari desa ke kota besar, berusaha bertahan hidup dengan menjual simpanan serta harta benda yang tidak banyak, berpindah ke kota lain demi mengikuti majikan yang mau mempekerjakan Noriyoshi, bukan hal yang mudah bagi Furuya, apalagi ketika ia melahirkan anak pertama tanpa didampingi satu pun kerabatnya. Tapi Furuya berusaha menerima semuanya, sembari berdoa bagi terwujudnya cita-cita sang suami. 

Bahkan ketika Noriyoshi meminta dirinya memenuhi perintah penguasa shogun yang mencari ibu-susu bagi putrinya yang baru lahir, Furuya harus pergi ke kediaman samurai yang sangat jauh, meninggalkan bayinya demi menyusui bayi orang lain. Semua karena ambisi Noriyoshi yang bertekad mengangkat derajat keluarganya menjadi seorang samurai. 

Bahkan ketika akhirnya Furuya berhasil kembali pada keluarganya, dan berturut-turut melahirkan anak, ambisi Noriyoshi tidak pernah pudar, justru semakin tersulut dan mengusahakan agar putra-putranya dijadikan anak angkat keluarga samurai. Dan Natsuko – anak kelima, putri kedua, lahir dengan tenang tanpa banyak merepotkan ibunya, menyusul Kuniko – putri bungsu, adik tersayang Natsuko. 

Semenjak kecil Natsuko kecil menjadi kegembiraan di keluarganya. Ia sangat cerdas, sehingga mampu menarik hati serta perhatian Noriyoshi. Furuya merasa cemas dengan peralihan ambisi Noriyoshi yang dilimpahkan pada putrinya, dengan memberikan pelajaran sastra klasik serta puisi-puisi. Tapi Noriyoshi tidak memperdulikan larangan istrinya, ia melihat suatu harapan pada putrinya yang sangat cepat menangkap pelajaran yang diberikan dengan kehausan akan pengetahuan yang sangat jelas – sungguh berbeda dengan putra-putranya. 

Dengan dorongan sang ayah untuk mereguk ilmu setinggi-tingginya, bertentangan dengan sang ibu yang khawatir akan masa depan seorang gadis yang terlalu sibuk dengan sastra dan puisi, bagaiman putrinya akan menjadi calon istri yang baik ? Namun Natsuko memutuskan menjalani hidup yang ia sukai : membaca dan menulis. Maka masa kecil Natsuko membuatnya dijauhi teman-teman sebaya, tak ada yang mau mengajaknya bermain, jika diajak pun Natsuko tidak menyukainya…gadis ini menjadi kutu buku yang hidup dalam dunianya sendiri. 

Natsuko menjadi dewasa dalam pikiran, meski masih sangat belia usianya. Ia bisa melihat bahwa tidak ada hal yang mustahil jika kita menginginkan sesuatu, bahkan semasa kecil ia sering berkelahi dengan kakak-kakaknya demi mempertahankan pendapatnya. 

“Kau tak mungkin menjadi penulis, Natsuko, karena kau perempuan,” kata Sentaro. “Tugas perempuan adalah menikah dan tinggal di rumah serta melahirkan anak, bukan menjadi penulis atau apa pun !”
“Jangan berkata begitu, Sentaro,” teriak Natsuko. “Perempuan mampu menjadi apa pun yang mereka inginkan asalkan mereka memiliki otak dan sepasang tangan ! Mereka sama pintarnya dengan laki-laki !” (p. 48-49)

Impian Natsuko satu-satunya yang membuatnya bertahan dalam menghadapi kehidupan keluarganya yang semakin terpuruk. Dimulai dengan pemerhentian ayahnya dari dinasnya pada usia 57 tahun. Menyusul penyakit parah menyeret Sentaro  - putra tertua harapan keluarga, pada kematian di usia muda. Putra kedua yang pemalas, memilih berpisah dengan keluarga, tak mau mengambil alih tanggung jawab, bahkan setelah Noriyoshi meninggal dalam usia 59 tahun dalam kondisi sedih dan patah hati setelah kematian putranya, dan ia juga meninggalkan warisan hutang menumpuk pada sisa keluarga yang terdiri dari tiga orang wanita. Natsuko yang akhirnya mengambil alih tugas sebagai kepala keluarga, bergelut setiap saat-setiap hari antara Impian dan beban penderitaan yang diterima keluarganya. 

“Sekarang aku harus berjuang sendirian, untuk pertama kalinya aku menatap diriku dalam cermin dan melihat seorang perempuan kurus berwajah seperti burung, begitu mungil, lemah dan rapuh, apakah itu benar-benar diriku ? Mampukah aku meraih keberhasilan ? Dan aku tahu di dalam tubuh kecil ini terdapat hati yang tulus dan api semangat menulis yang berkobar-kobar dan aku bersumpah demi setiap hela napas di tubuhku bahwa aku akan dikenang karena karya tulisanku – buku harianku. Bahkan jika aku harus mati untuk itu, aku tak akan membiarkan diriku dilupakan.” ( p.86 )

Tentang Penulis :

Rei Kimura adalah seorang pengacara yang memiliki passion dalam bidang menulis. Keunggulan karya-karyanya terletak pada penggambaran peristiwa dan karakter tokoh yang unik. Ia menampilkan kisah yang digali dari kejadian nyata dan hidup orang-orang sebenarnya di dalam beberapa bukunya. Ia meyakini bahwa ini sebuah cara yang paling baik untuk menjadikan sejarah yang tersembunyi menjadi “hidup” dan dapat diterima oleh pembaca di abad 21.

Dengan cara itu, Kimura menyentuh beberapa sejarah tragis seperti tenggelamnya Kapal Awa Maru dan kisah pilot kamikaze perempuan  di masa Perang Dunia II lalu merangkainya menjadi sebuah cerita yang menyentuh bagi orang-orang yang hidup dan meninggal pada masa kejadian itu.

Kimura memandang karya-karyanya sebagai pencarian atas kebenaran, tantangan, dan kepuasan. Buku-bukunya diterjemahkan ke berbagai bahasa di Asia dan Eropa dan telah terbit di seluruh dunia. Selain menjadi pengacara, Kimura juga seorang jurnalis freelance yang andal dan tergabung dalam Australian News Syndicate. 

"Jika menurut Anda buku ini bagus dan layak untuk dimiliki, ayo ikuti MY BIRTHDAY GIVEAWAY start on 25 April 2012, hadiahnya 1 buku "A Note from Ichiyo" gratis !!! Syarat pertama cukup ikut sebagai peserta BBI 1st Giveaway yang diadakan di blog ini - mudah khan ?? "

Best Regards, 
* HobbyBuku * 

Friday, March 9, 2012

Books "BOTCHAN"


Judul Asli : BOTCHAN
Copyright © by Natsume Soseki
English Translation by Alan Turney
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Indah Santi Pratidina
Cetakan ke-01 : Februari 2009 ; 224 hlm
Cover by Martin Dima

[ "Resensi buku ini dibuat dalam rangka ikut berpartisipasi dalam Lomba Resensi Buku ReadingWalk.com" | source from Reading Walk's Library ]

Sinopsis :
Botchan adalah sosok laki-laki yang mengalami banyak hal dalam kehidupan pribadinya. Semenjak kanak-kanak, ia tak pernah lepas dari ‘masalah’ – sehingga membuat dirinya dianggap anak berandalan yang tak punya masa depan.
 
 Baik ayah, ibu maupun kakaknya, tak pernah ada yang menyukai maupun memahami semua tingkah lakunya. Hanya seorang wanita tua, pelayan keluarga mereka, yang menyayangi dirinya serta mampu melihat bahwa dibalik semua ‘keributan & masalah’ yang diperbuat – yang ada hanyalah sosok manusia yang jujur, apa adanya, sifatnya yang tak suka berpura-pura serta bertindak secara spontan inilah yang justru sering membuatnya menghadapi masalah. 

Sejalan dengan waktu, bocah tersebut tumbuh menjadi pria dewasa, jauh dari keluarganya yang ‘membuangnya’–hingga saat terakhir berbekal sebagian warisan keluarga yang diberikan kakaknya, dia memutuskan secara spontan menerima tawaran pekerjaan sebagai guru di daerah pelosok. Kiyo – sang mantan pelayan yang dianggapnya sebagai satu-satunya kerabat yang mengasihinya, mengantar ‘kepergiaan-nya’ dengan pesan agar berhati-hati dalam menjaga tingkah-lakunya yang suka tanpa ‘tedeng aling-aling’ alias blak-blakan dan berusaha beradaptasi di daerah baru yang akan dituju. 

Kedatangan dirinya sebagai guru baru dari kota besar ( = Tokyo ) ke daerah yang dianggap lebih terpencil,  membuat dirinya sedikit memandang remeh akan kehidupan di daerah tersebut. Dan semenjak kakinya menginjak daerah baru tersebut, berbagai masalah menyangkut tata karma, status sosial, peraturan menjadi sumber konflik melibatkan dirinya dalam masalah yang akan merubah kehidupannya di masa mendatang. 

Kejujuran serta kepolosan dan sifatnya yang blak-blakan bertolak belakang dengan sebagian besar orang yang dijumpainya. Mulai dari kepala sekolah, guru-guru, para murid hingga pemilik rumah tempatnya menginap. Maka hanya dalam beberapa hari, dia sudah mendapat ‘masalah’ dengan adanya penipuan, pencemaran nama baik, hingga perkelahian, semua hal yang menyebabkan dirinya semakin lama semakin muak dengan kemunafikan serta kepura-puraan yang terjadi di sekelilingnya. Apalagi saat dia melihat bahwa salah satu rekannya yang menjadi korban justru tidak mampu bertindak guna membela dirinya sendiri yang dijebak dalam masalah. Maka sosok Botchan akhirnya harus mengambil keputusan serta tindakan yang sesuai dengan kata hatinya

Kesan :
Mendengar nama Natsume Soseki, maka terbayang akan karya-karya klasik Jepang dimana seting waktu dan penokohan yang dimasukan senantiasa kental akan kehidupan masyarakat Jepang sebelum modernisasi. Natsume Soseki mampu memberikan suatu gambaran akan kehidupan sehari-hari dalam masyarakat menengah ke bawah lewat karya-karya satir yang menghibur sekaligus mengejek akan masing-masing pribadi dan sisi manusiawi baik lewat kebaikan maupun keburukan manusia.

Terus terang, saat membaca ‘iklan’ bahwa buku ini mirip Toto Chan, maka segera setelah bukunya beredar segera saja ku-beli …. dan begitu membuka beberapa halaman awal hingga pertengahan, ternyata ini kisah yang sama sekali berbeda. Meski merasa sedikit di-permainkan oleh iklan yang ternyata salah, ternyata daku mampu menikmati karya sastra Jepang yang ditulis dari sudut yang berbeda. Perbedaan yang sangat jelas adalah ini karya satir – di mana penulis menuangkan ‘ejekan’ akan kemunafikan serta menertawakan kepura-puraan yang dilakukan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan sebenarnya ada sedikit kemiripan antara sosok Botchan dengan sosok Toto Chan – mereka sama-sama manusia yang bersikap & bertindak tanpa ‘tedeng aling-aling’ alias blak-blakan, dan ternyata kejujuran akan kebenaran justru tidak mendapat tempat yang terhormat di dalam realita kehidupan. 

Jika dalam karya pertamanya Wagahai wa Neko de Aru ( I am a Cat ) – penulis menuangkan satir tentang kehdupan manusia yang sederhana nan kompleks, maka dalam Botchan yang merupakan karyanya kedua, terasa lebih merupakan ‘tuangan’ kehidupan pribadi, seakan-akan penulis mencari kekuatan lewat tokoh Botchan yang tak pernah kenal takut dalam menghadapi apa pun, termasuk bagaimana pandangan masyarakat pada dirinya secara sosial dan tetap mempertahankan prinsip-prinsip hidup meski dikatakan sebagai orang yang keras kepala. Maka tidak heran jika novel ini menjadi favorit para pembaca Jepang yang menyukai sosok menyerupai ‘samurai’ yang membela kebenaran & prinsip kehidupan melalui kisah Botchan.   

Bagi pembaca yang mencari hiburan ringan, mungkin bacaan ini sedikit kurang sesuai, karena penyampaian kisah secara satir dan juga dengan gaya blak-blakan, dapat menimbulkan kesan ‘kasar & brutal’ dalam pengungkapan tokoh-tokoh dalam cerita. Namun jika Anda mencari suatu bacaan bermutu dan sebagai refleksi diri, maka ini adalah bacaan yang tepat, menghibur sekaligus ‘menonjok’ diri kita akan betapa hipokrit dan munafik manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari, dengan tambahan ekstra dengan adanya penggambaran kehidupan serta nuansa Jepang era sebelum modernisasi. Sebuah karya ‘gelap’ yang mampu memberikan ‘terang’ bagi para penikmat sastra klasik Jepang.
( Sedikit tambahan ekstra, pujian khusus atas desain & ilustrasi cover oleh Martin Dima, benar-benar unik dan bagus, bahkan menurut pendapat pribadi-ku, jauh lebih bagus dibandingkan cover buku aslinya (^_^) setidaknya buku versi Inggris yang ku-lihat di Amazon )

Tentang Pengarang :
Natsume Kinnosuke, yang lebih luas dikenal dengan nama pena Soseki dilahirkan di Tokyo pada tahun 1867, setahun sebelum Restorasi Meiji. Periode Meiji merupakan masa proses perubahan pada berbagai area budaya, ketika pada masa inilah gerbang Jepang terbuka untuk mengijinkan masuknya aliran deras ide-ide dunia Barat, termasuk membawa perubahan pada bidang sastra. Kontak pertama Soseki dengan dunia sastra selain Jepang dimulai pada tahun 1881, saat ia berusia 14 tahun dan mempelajari Sastra Cina selama setahun di sekolahnya.

Setelah lulus dari Tokyo Imperial University, jurusan Sastra Inggris pada tahun 1895, ia menjadi guru bahasa Inggris di daerah pedalaman Pulau Shikoku di sekolah menengah Matsuyama ( yang menjadi seting kisah Botchan ), lalu setahun kemudian beliau pindah ke Kyushu – sebuah pulau di daerah selatan, di mana ia mengajar di sekolah menengah tingkat atas. Di tahun 1900, ia dikirim ke Inggris dengan beasiswa penelitian dari pemerintah, dan menetap di sana hingga tahun 1903. 

Di tahun-tahun berada di luar negeri inilah, ia mulai menderita serangan gugup yang menyusahkan sepanjang hidupnya. Di tahun 1905, ia menerbitkan karya fiksi pertamanya : Wagahai wa Neko de Aru ( I am a Cat ), yang diikuti dengan novel keduanya : Botchan pada tahun 1906 yang menjadi terkenal dan merupakan favorit para pembaca Jepang. Disusul kemudian dengan karya-karya lainnya : Kusamakura dan Nihyaku toka, yang menjadikan dirinya penulis kreatif dengan posisi penting. Nuansa satir ringan dalam karya-karya awalnya kemudian digantikan dengan Kofu. Sanshiro, dan Sore kara yang bernada lebih serius. Meski sambil berjuang melawan sakit parah, termasuk dalam karya sastra Soseki pada dekade terakhir hidupnya antara lain Mon, Kojin, dan Kokoro, kemudian memuncak pada novelnya yang tidak selesai : Meian – sebuah studi pengasingan dan kesepian. Ia meninggal dunia di tahun 1916.
( sumber : www.gramedia.com ) 

Best Regards, 
* HobbyBuku *