WELCOME

For everyone who love classical stories
from many centuries until millenium
with some great story-teller around the world
these is just some compilation of epic-stories
that I've read and loved so many times
... an everlasting stories and memories ...

Translate

Wednesday, October 31, 2012

Books "QUO VADIS ?"



Books “QUO VADIS ?”
Judul Asli : QUO VADIS – A NARRATIVE OF THE TIME OF NERO
Copyright © by Henryk Sienkienwicz
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Antonius Adiwiyoto
Desain Sampul : Satya Utama Jadi
Cetakan II : November 2009 ; 552 hlm 

Sepanjang sejarah kehidupan, Manusia – sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia karena diberkahi akal-budi untuk memilih kehidupan yang akan dijalani, memutuskan mana yang baik dan mana yang buruk. Sesuai dengan evolusi dan perkembangan, maka ciptaan-Nya semakin disempurnakan, secara fisik maupun mental. Akan tetapi kebebasan serta hak untuk memilih, justru banyak disalah-gunakan pada hal-hal yang tidak layak dan sangat tidak manusiawi, sesuai dengan akhlak dan kodrat masing-masing. Jika hanya segelintir manusia yang memiliki akhlak rendah, maka kehidupan akan terus berjalan. Namun bagaimana seandainya suatu bangsa yang besar, justru mengalami kejatuhan akan turunnya nilai-nilai moral, perilaku serta pikiran yang tiada bedanya dengan hewan atau makhluk yang lebih rendah derajatnya ?? 

[ source ]
Sejarah mencatat kebangkitan suatu bangsa muncul setelah terjadi tragedi atau musibah besar. Dan di antara sekian banyak kejadian, justru peran serta manusia itu sendiri yang menyebabkan terjadinya pemusnahan, pembantaian, dan pembenaran atas perilaku yang tidak manusiawi. Dengan alasan memperluas kekuasaan, memerintah serta memperbudak manusia-manusia lain, peperangan, pembunuhan dan penyiksaan dibenarkan secara ‘hukum-manusia’ dan salah satu alasan yang menyebabkan terjadi perang berkepanjangan adalah penyebaran agama, menghadapi aliran keyakinan kuno, terutama paganisme yang berputar pada politeisme, animisme dan dinamisme. Salah satu pendobrak aliran ini dimulai ketika terjadi penyebaran agama Kristen - tugas para rasul setelah Kebangkitan Kristus, memperbaharui janji akan dunia baru, pengampunan serta kehidupan yang kekal di sisi Allah yang Tunggal.  

Preview :
Kisah dibuka ketika Petronius – mantan gubernur dan anggota kehormatan Dewan Romawi, kesayangan Caesar Lucius Domitius Ahenobarbus atau yang dikenal sebagai Nero, karena kemampuan serta kesukaan Petronius akan seni serta keindahan, membuat dirinya dijuluki sang Penilai Keindahan, dan ia mendapat kunjungan tak terduga dari kemenakannya Vinicius  Muda. Pemuda tampan dan menarik ini baru kembali ke Roma setelah mengikuti pasukan Corbulo, dan ia memiliki permohonan pada sang paman yang memiliki pengaruh serta kekuasaan demi tercapainya impian terpendam yang menggebu-gebu dalam dirinya. Vinicius jatuh hati pada Callina atau yang lebih dikenal sebagai Lygia – putri angkat Aulus Platius dan Pomponia Graecina. 

[ source ]
Kesulitan terjadi karena Lygia bukan bangsa Romawi, melainkan keturunan Raja bangsa Lygia (=sekarang disebut sebagai bangsa Polandia) yang pernah menjadi sekutu sekaligus tawanan perang. Setelah perang lama usai, Lygia sebatang kara, dan dibawa ke Roma, dirawat serta dibesarkan oleh Aulus dan Pomponia yang menyayanginya bagai putri  kandung mereka. Karena perbedaan status, tidak layak jika gadis ini dijadikan seorang istri bagi Vinicius yang keturunan terhormat bangsa Romawi. Namun tidak mungkin pula Aulus menyerahkan putrinya sebagai selir / gundik Vinicius, apalagi keluarga mereka dikabarkan menganut aliran ‘Kristen’ yang dianggap aneh bagi para petinggi Roma. Karena kondisi inilah, Vinicius meminta pertolongan Petronius yang memiliki banyak akal serta muslihat. 

Petronius sangat sayang pada Vinicius, maka ia mengatur sebuah rencana terselubung yang nantinya akan membuat Lygia menjadi ‘milik’ Vinicius. Melibatkan peran serta perintah Caesar Nero, Lygia ditahan di kediaman Caesar untuk nantinya diberikan sebagai hadiah kepada pemuda yang sedang mabuk kepayang. Yang tidak mereka ketahui atau dengan sengaja menutup mata, bahwa Lygia bukan gadis biasa. Ia dibesarkan dan dididik secara Kristen oleh keluarga angkatnya, sehingga hatinya bersih, tidak menyukai bahkan cenderung muak pada pesta pora dan kebiasaan hidup para pejabat Roma. Meski di dalam lubuk hatinya, ia juga tertarik pada Vinicius, namun ia tak mau mengorbankan prinsip hidupnya dengan menjadi selir Vinicius. Maka saat Petronius dan Vinicius menanti iring-iringan tandu yang membawa ‘selir-baru’ ke kediamannya, Lygia dibantu pelayan setianya Ursus serta kelompok Kristen, melarikan diri, bersembunyi dalam lindungan para penganut dan simpatisan Kristen. 

[ source ]
Pelarian Lygia berdampak pada kemarahan Nero yang nyaris menghukum pasangan Aulus dan Pomponia, karena dianggap mereka berperan serta dalam aksi pemberontakan itu. Dan dampak yang paling hebat adalah Vinicius yang nyaris gila dalam usahanya menemukan wanita pujaan hatinya. Pemuda yang semula mabuk kepayang, akhirnya murka akibat penolakan Lygia. 

[ source ]
Hal ini mendorong dirinya untuk menempuh segala cara, menemukan wanita itu dan membalas penghinaan yang ia lakukan. Petronius yang melihat kejatuhan moral serta pikiran Vinicius berusaha mencegah, namun kebulatan tekad pemuda yang putus asa itu, tak mampu dibendung. Kemudian melalui Eunice – budak setia Petronius, mereka bertemu dengan Chilo Chilonides – seorang peramal yang menjanjikan mampu mencari persembunyian Lygia yang bagai lenyap ditelan bumi. 

Penyelidikan Chilo membawa mereka ke pertemuan rahasia kaum Kristen, dan setelah menunggu sekian lama, akhirnya suatu hari, mereka berhasil menemukan di mana Lygia berada. Membawa seorang pengawal dan disertai Chilo, Vinicius menyusup dalam tempat persembunyian dan melarikan Lygia yang terkejut. Namun Ursus yang tak pernah melepaskan putri lindungannya, mampu membunuh sang pengawal dan nyaris membunuh Vinicius jika tidak dicegah oleh Lygia. Vinicius berada pada posisi yang terbalik, kini ia terluka parah dan menjadi tawanan.

[ source ]
Dalam proses penyembuhan dan pemulihan, Vinicius bertemu dengan sebagian pelindung dan teman-teman Lygia, orang-orang yang dengan sepenuh hati merawat dan membantu pemulihan dirinya. Vinicius terheran-heran akan kebaikan serta kemurahan hati orang-orang tersebut. Bahkan ketika ia berhadapan Rasul Petrus, mendengarkan ajaran-ajaran yang diberikan sepotong demi sepotong di tengah kondisi setengah sadar. Walau ia tak mampu langsung memahami pemikiran para pemeluk agama ini, namun secara perlahan, hal itu berpengaruh pada dirinya, menimbulkan pergolakan dalam hatinya.

“...dia mendengar khotbah bahwa orang bahkan harus mengasihi musuhnya. Tapi menurut pendapatnya itu hanya teori belaka. Dalam hidup sesungguhnya, itu takkan terjadi. Pahala apa yang diinginkan orang-orang ini? Vinicius berpendapat bahwa kehidupan orang Kristen di dunia yang mengesampingkan hartabenda dan kesenangan hanya merupakan hidup yang menyedihkan. Tetapi ada hal-hal yang mengherankan : wajah setiap orang berseri-seri, air muka mereka memancarkan suka cita yang sangat besar, ketika orang yang seharusnya dibunuh karena bersalah, dilepaskan dan diampuni kesalahannya...” 
[ p. 209 ]
[ source ]
Sementara Vinicius dalam pemulihan, Petronius yang berangkat mendampingi Nero beserta para pendukungnya, berjalan-jalan mengunjungi wilayah Yunani, tempat-tempat yang disukai oleh Nero dan membuat pesta pora di mana pun mereka berkunjung. Petronius mencemaskan kondisi Vinicius, tetapi ia juga harus mempertahankan status sosialnya, terutama dengan adanya pihak-pihak yang iri dengan kedekatan dirinya terhadap Nero. Salah satu yang paling giat melawan Petronius adalah Tigellinus – Kepala Pasukan Pengawal Praetoria, yang bersedia melayani apa pun permintaan Nero demi menjamin posisinya sebagai kepercayaan Caesar. 

Ketika akhirnya Vinicius mampu kembali ke kediamannya, ia telah berubah. Ajaran dan perilaku sehari-hari kaum Kristen yang disaksikan semasa pemulihannya, membuat ia mempertanyakan arti kehidupan yang selama ini ia jalani. Kegelisahan hatinya kini bukan diakibatkan kemarahan dan cemburu buta, namun pada keyakinan suatu janji akan kehidupan baru yang lebih membahagiakan jiwa serta batin manusia. Kini ia tak mampu membangkitkan minat pada undangan pesta pora yang diadakan oleh kaum terhormat Romawi. Petronius meski tetap menyayangi dirinya, tak mampu menyelami pemikiran Vinicius yang baru ini. Ketertarikan Petronius akan agama Kristen beserta pemeluknya, sebatas berhubungan dengan Vinicius dan mempelajari sesuatu yang baru, tanpa bertujuan menjalaninya. 
[ source ]
“Aku tahu penghiburanmu terletak dalam Kristus. Tapi aku tidak mengerti apa artinya,” kata Vinicius. “Bagi kami tidak ada perpisahan, sakit, maupun penderitaan. Kalau memang ada, segera akan berubah menjadi kegembiraan. Maut sendiri yang bagimu berarti akhir kehidupan, bagi kami orang Kristen berarti awal kehidupan. Maut merupakan perubahan dari kesengsaraan menjadi kebahagiaan tanpa batas, dan sifatnya kekal,” jawab Lygia. 
[ p. 219 -202 ]

Conclusion :
[ source ]
Even the main character of this stories, Marcus Vinicius and Lady Lygia, this not all about their relationships. The author puts them to connect with the history between reality and fictional. The main historical theme is about the journey of Christianity and its people who had to  choose between their life or their religion, something that not acceptable by Romans who still believe in many gods than one God. 

The setting was City of Rome under the rule by Emperor (Caesar) Nero around AD 64. Conflict start to build around the relationship between Lady Lygia from the Lygia’s Heirs (its Poland now) who also secretly life as a Christian, then a young Roman patrician named Marcus Vinicius falling in love with her, even possesed to own her as a mistress. Afraid of being mollested, Lady Lygia runaway from Caesar’s orders, makes her and everyone who helps her pursue as traitor to Emperor. 

[ source ]
But God’s will speak differently, when Vinicius path while pursue woman of his dreams to revenge, come across with Christian people, meets and learn about becoming Christian from Saint Peter and Saint Paul. Saint Peter – the first student of Christ, who had been active and provocative leader of Christianity since The Christ Rise, really influence Vinicius perspective about the most important in life. With the exampler of Saint Paul boldness, as former Christian-hater who become faithful believer, this stories would also give another inside-perspective to the readers. 

[ source ]
I’m baptist as an Catholic, learn about Bible and its history since very young age. But reading this ‘historical-fiction’, knowing that this is fictional, yet my heart so trouble while seeing the episode who discribe so vivid by the author. The drama, the tragedy, how this crazy-egomaniac Emperor can adjust the burning of the city full of people who he didn’t like ‘cause its against ‘beauty and sense of art’ --- and when its out of control, everyone involve doesn’t have a courage to confess, instead looking some else to blame, then the hatred arise, burning like a flame, searching an escape tunnels to burn another victim. 
If you ever watch movies like Gladiator, Spartacus or Ben Hur, mostly the great and glamour feeling will erase the brutality of the scene. Believe me, when you reading this book, you’re not gonna easily forgot the image of people killing people just to entertaint the audience (how even they can watched it again and again that beyond my mind) --- even there’s a scene, contest between audience who had stomatch and stay until the masacre finished (and this masacre can be taking days to finished).

[ source ]
But beyond all the worse parts, this stories give something else too, God’s promise to its people --- everyone else, from children to oldest, from peasant to respectable, beggars to royal family, men and women, that if they confess and claimed Him as the only God they believe, no matter what happen, when the time is come-there’s a place for them on His side in Heaven. “Quo Vadis, Domine” __ is Latin phrase for ‘Where are you going, Lord ?’   and alludes to the apocryphal Acts of Peter, in which Saint Peter flees Rome but on his way meets Jesus and asks him why he is going to Rome. Jesus says "I am going back to be crucified again", which makes Peter go back to Rome and accept martyrdom.
5 star to Quo Vadis by Henryk Sienkienwicz.

About Author :
Henryk  Adam Aleksander Pius Sienkienwicz  ( May 5, 1846 – November 15, 1916 ) was a Polish journalist and one of the most popular Polish writers at the turn of the 19th and 20th centuries. Born into an impoverished noble family Russian-ruled Poland. He wrote several historical novels set during Commonwealth ( Polish Republic ), and many of them first serialized in newspapers. In Poland, he is best known for his historical novels such as “With Fire and Sword”, "The Deluge", and "Fire in the Steppe" (The Trilogy) set during the 17th-century Polish-Lithuanian Commonwealth, while internationally he is best known for Quo Vadis, set in Nero's Rome. Quo Vadis has been filmed several times, most notably the 1951 version.

[ source ]
Quo Vadis : A Narrative of the Time of Nero is a historical novel based on Roman Empire with very much detail and accuracy, makes this novel also carries an outspoken pro-Christian message . First published in three separated  Polish edition in 1895, then came out in book form in 1896 and since then has been translated into more than 50 languages. This epic-novel contributed on Sienkiewicz’s Presticious Award : The Nobel Prize for Literature in 1905, for his “outstanding merits as an epic writer.” Several adaptations have been made based on this book, including the 1951 Hollywood Production on Quo Vadis and the 2001 adaptation by Jerzy Kawalerowicz.  

[ more about this author, check on here : Henryk Sienkiewicz | about his works, check on here : Project Gutenberg | about book adaptation, check on here : IMDB ]

EVENT BACA & POSTING BERSAMA BBI : Oktober 2012 dengan Tema 'Books by Nobel Prize Winners' 

List of Participants of this Event : 
  1. Fanda | BELOVED by Toni Morrison 
  2. H. Tanzil | ISTANBUL by Orhan Pamuk 
  3. Maria | QUO VADIS by Henryk Sienkiewicz 
  4. Dion | ONE HUNDRED YEARS OF SOLITUDE by  Gabriel Garcia Marques
  5. Ally | JUST SO STORIES by Rudyard Kipling
  6. Maria | IMPERIAL WOMAN by Pearl S. Buck
  7. Maria | KIM by Rudyard Kipling 
  8. Sinta | IMPERIAL WOMAN by Pearl S. Buck 
  9. Bzee | THE STRANGER by Albert Camus    
  10. Melisa | GITANJALI : SONG OFFERINGS by Rabindranath Tagore  
  11. Astrid | MY CENTURY by Gunther Grass 
  12. Fadhilatul | THE SUN ALSO RISES by Ernest Hemingway 
  13. Luckty | FIESTA by Ernest Hemingway   
  14. Desty | FATELESS by Imre Kertész
  15. Annisa | THE SOUND & THE FURY by William Faulkner  
  16. Eko | JUST SO STORIES by Rudyard Kipling 
  17. Stefanie | JUST SO STORIES by Rudyard Kipling 
  18. Mia | THE GOOD EARTH by Pearl S. Buck 
  19. Ferina | SNOW by Orhan Pamuk 
  20. Dewi Sidik | DISGRACE by J.M. Coetzee 
  21. Alvina | JUST SO STORIES by Rudyard Kiplin
  22. Azia Azmi | WAITING FOR THE BARBARIANS by J.M. Coetzee 
  23. Rati | THE PROTECTOR by  J.M.G. Le Clezio
  24. Dessy | SNOW COUNTRY by Yasunari Kawabata
  25. Ana | BELOVED by Toni Morrison 
  26. Sabrina | THE GOOD EARTH by Pearl S. Buck 
  27. Helvry | CALDAS by Gabriel Garcia Marquez  
  28. Indah Tri Lestari | THE WHITE CASTLE by Orhan Pamuk 
  29. Enggar | LORD OF THE FLIES by William Golding 
  30. Dani | MEMORIES OF MY MELANCHOLY WHORES by Gabriel Garcia Marquez
  31. Dewi | THE LATE MATTIA PASCAL by Luigi Pirandello 
  32. Indri | THE NEW LIFE by Orhan Pamuk 
  33. Tezar | ISTANBUL by Orhan Pamuk 
  34. Tezar | IMPERIAL WOMAN by Pearl S. Buck   
Best Regards,

22 comments :

  1. Jadi keingat Imperium dan POmpeii yang masih numpuk. Seingatku buku ini sering diobral 40% ya? beli ah kl obral lg

    ReplyDelete
  2. Wow,5 stars!
    Kadang keraguan seseorang akan agamanya bermula dari pemahaman yg setengah2 ya, jadi mereka mencari dan mencari tapi tetap tidak menemukan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, aq pikir bukunya bakaln berat, ternyata enak aja kok, seperti punya Robert Harris, meski klasik tapi tidak bertele-tele :D malah lebih 'mbulet' baca KIM yang super tipis :(

      Delete
  3. waaah ini salah satu wishlist ku lho mbaaa =) seru kayaknya ceritanya, tapi nama2nya kok susah banget ya buat diinget =p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngak kok mbak, lebih gampang ketimbang Imperium malahan :D dan jauh lebih enak daripada baca KIM :(

      Delete
  4. Quo Vadis? tadinya saya pikir kalimat ungkapan apaa.. gitu, ternyata itu versi latin dari 'Where are you going?'

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, aq juga baru tahu setelah googling di om wiki :D

      Delete
  5. Quo Vadis ini salah satu favoritku juga. Lambat cuma di awal tapi setelah itu enak dibaca (aku sampe kaget sendiri karena kok nggak seberat yg kuduga).
    Kapan-kapan baca ulang aaah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya benar, aq juga salah duga, dari ketiga buku pilihan ini yang paling tebal. tapi justru paling cepat selesai karena menarik, KIM yang paling tipis justru paling lama karena bahasanya lumayan sulit diikuti.

      Delete
  6. Kemarin sempat mau baca ini juga, tapi melihat ketebalannya dipending dulu... nyari waktu yang tenang dan pas bacanya.
    Setidaknya review ini udah ngasih sedikit bayangan ttg isinya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan salah sangka dengan tebalnya mbak :D aq juga duga seperti itu di awal, ternyata enjoy aja malahan lumayan cepat ketimbang baca KIM yang lebih tipis :D

      Delete
  7. Bangsa romawi ini emang terkenal karena kekejamannya tapi juga karena kejeniusannya. Hidup di masa sekarang, harus diakui saya kagum sama mereka. Tapi klo hidup dulu, ugh...pasti saya benci dengan keangkuhan mereka
    *kok gak nyambung sama review buku ya?*

    Hehehe...abis tergerak baca komen mbak maria tentang si Caesar yang tega bakar 1 kota dengan alasan sepele sih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aq sekarang pengen punya dan nonton filmnya mbak :D dulu banget waktu kecil *ingat samar-samar* filmnya pernah diputar di TVRI gegara dilarang nonton sama ortu (tayangan kategori orang dewasa) jadi malah'ngintip' nah pas adegan bakar-bakar kota ini, jadi bikin aq ngak bisa tidur malahan hehe

      Delete
  8. Cerita tentang zaman romawi selalu menggoda. Cari ah.. Hehehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini lagi di-obral 40% lho mbak Nissa, coba cari di tobuk mungkin masih ada

      Delete
  9. Knowing our history make us wise yes?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Indeed Mr. Helvry, people learn from history, if they or we cannot learn from that, human will extinct like dinosaurs :D

      Delete
  10. Kompleks juga ya ceritanya... alurnya khas klasik banget :) Makasih udah share buku ini mba Maria

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama mbak Ana, beruntung ada event ini, jadi buku yang bagus tidak semata berada dalam timbunanku :D really love good books and good stories, but even happier when I can share it with others who love and appreciate this too :D

      Delete
  11. Hai, Maria. Namaku Kama, dari Polandia. Aku banget senang Maria suka Quo Vadis. Bukunya klasik di Polandia. Biasanya anak2 bacanya di sekolah. Aku juga, di SMA. Waktu aku tinggal di Solo, aku beli versi Indonesia, tapi belum bacanya.

    Aaa, judul asli "Quo Vadis" aja. "Quo Vadis - A Narrative of the Time of Nero" itu judul terjemahan Inggris. ;)

    ReplyDelete
  12. Halo. Saya orang Polandia. Saya sangat senang karena di Indonesia dibaca Henryk Sienkiewicz yang salah satu paling terkenal penulis di dunia. Bolehkah saya bertanya? Saya tidak bisa menemukan informasi tentang alih bahasa yang bernama Antonius Adiwiyoto. Saya mau menulis artikel tentang terjemahannya tapi di Polandia dia tidak terkenal. Di mana saya bisa menemukan informasi tentangnya? Saya juga mencari informasi apakah "Quo vadis?" diterjemahkan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Bolehkah saya meminta tolong? Terima kasih. Salam hangat.

    ReplyDelete