WELCOME

For everyone who love classical stories
from many centuries until millenium
with some great story-teller around the world
these is just some compilation of epic-stories
that I've read and loved so many times
... an everlasting stories and memories ...

Translate

Monday, July 30, 2012

Short Story "THE RIDDLE"



[ Short-Stories ] TEKA-TEKI
Judul Asli : THE RIDDLE
Copyright © 1923 by Walter de la Mare
( dari kumpulan cerpen klasik dunia : Fiksi Lotus Vol. I ; Chapter 1 )
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Maggie Tiojakin
Desain & Ilustrasi cover : Staven Andersen
Cetakan I : April 2012 ; 186 hlm 

Kisah ini tentang seorang Oma (panggilan bagi nenek dari bahasa Belanda), yang tinggal di sebuah rumah besar yang sudah sangat tua, dibangun di masa keemasan pemerintahan Inggris 1714-1830, sehingga masih terlihat struktur sebuah bangunan yang megah. Suatu hari, Oma yang sekian lama hidup seorang diri hanya ditemani seorang pelayan, kedatangan tujuh orang cucunya, yang akan seterusnya menetap bersama sang nenek. Mereka bernama Ann, Matilda, James, William, Henry, Harriet, dan Dorothea.  

Oma menyambut kehadiran mereka satu persatu, dan memberi masing-masing anak sebuah hadiah selamat datang. Oma memberikan sebuah pesan penting bagi mereka, bahwa mereka ‘dipersilahkan’ untuk hidup riang-gembira, bermain setelah menunaikan kewajiban mereka masing-masing, serta tak lupa untuk senantiasa mengunjungi sang nenek di sela-sela waktu mereka. Dan yang terpenting dan tidak boleh dilupakan, mereka dilarang untuk mendekati atau bermain-main di dekat sebuah peti kayu yang terletak di sudut ruang kamar kosong di lantai atas rumah itu. 

Sebagai anak-anak penurut, mereka bertujuh melakukan apa yang diminta oleh sang nenek. Bersekolah dan menyelesaikan pekerjaan rumah, bermain-main di kala senggang, dan minimal dua kali sehari mereka menengok sang nenek yang selalu duduk di depan jendela, memandang keluar dengan pandangannya yang semakin kabur, seiring dengan pertambahan usianya. Hingga suatu hari salah satu dari ketujuh anak itu, Henry, mendekati kotak peti yang terlarang. Setelah ia asyik bermain-main dengan hiasan peti serta membuka tutup peti yang ternyata tiada barang berharga di dalamnya, Henry masuk ke dalam peti itu, menutupnya, dan ia tak pernah tampak lagi semenjak saat itu. 

Keesokan harinya, Henry yang menghilang, baru diketahui. Maka sang nenek berpesan kembali, agar mereka berenam tidak mendekati peti kayu itu. Namun seperti kebiasaan anak-anak, semakin dilarang, semakin keingin-tahuan serta rasa penasaran menggayuti benak mereka. Maka setelah itu Matilda menghilang di dalam peti, menyusul Harriet dan William, Dorothea dan James, dan pada akhirnya rumah besar itu kosong dan lenggang, hanya tinggal sang nenek dan Ann – yang tertua dari ketujuh anak itu. 

Penulis yang terkenal akan kisah-kisah horor serta petualangan ini, mampu memberikan suasana mistis dan mencekam, dengan mengisahkan bahwa anak-anak yang melanggar larangan orang tua, akan menerima konsekuensinya. Namun sembari membacakisah ini, justru diriku mendapati suatu pesan tersirat yang bukan sekedar ‘memperingatkan’ anak-anak, tetapi juga suatu pernyataan bagi siapa saja yang menjalani kehidupan nyata, terlepas apakah mereka masih kanak-kanak atau sudah beranjak dewasa. 

Menurut interpretasi-ku, kisah ini merujuk pada kehidupan orang tua dan anak. Para cucu yang datang ke kediaman sang nenek adalah anak-anak yang ‘hadir’ dalam kehidupan sebagai orang tua. Pada awalnya mereka bisa bersenang-senang bersama, saling membagi waktu, namun seiring pertambahan waktu, sang nenek (orang tua) semakin menua, semakin rabun, tidak mampu secara aktif terlibat dalam kegiatan anak-anaknya. 

Mereka pun menemukan hal-hal baru yang mampu menyibukkan diri, dan “memasuki-peti” tenggelam dalam kegelapan (kesibukkan / kehidupan baru). Satu demi satu mereka menghilang, atau bisa dikatakan ‘sedang pergi ke suatu tempat’ sebagaimana ungkapan Oma. Dan yang masih bertahan untuk tinggal adalah anak tertua, yang boleh jadi memiliki rasa tanggung jawab untuk tetap merawat dan menemani sang nenek. Namun suatu hari pun ia pergi meninggalkan sang nenek, duduk termenung seorang diri di depan jendela, dalam kesunyian.  

“Di dalam pikirannya ada jejak memori yang saling memintal – tawa dan tangus, bocah-bocah periang, kunjungan teman, serta kepergian mereka yang menyayat hati.” 
( from 'The Riddle' at Fiksi Lotus Short Stories Vol. I | p. 9 ) 

Tentang Penulis :
Walter de la Mare ( 25 April 1873 – 22 Juni 1956 ) , adalah seorang penulis asal Inggris, dengan karya-karyanya meliputi berbagai puisi, cerita pendek serta novel. Salah satu karyanya yang terkenal berjudul ‘The Listeners’ merupakan  puisi bagi anak-anak. Novel pertamanya berjudul ‘Songs of Childhood’ diterbitkan dengan nama Walter Rama.
Di tahun 1921 novelnya yang berjudul ‘Memoirs of a Midget’ memenangkan penghargaan James Tait Black Memorial Prize untuk kategori fiksi terbaik. 

[ Note : Review Short Story "The Riddle" ini diikut-sertakan dalam progam Shorty July Event  host by blog Baca Klasik  ]

Best Regards, 

2 comments :